Sabtu, 27 November 2010

MUSIK SERIOSA

video
BENYAMIN SUEB

PENGERTIAN 

Musik Seriosa, Riwayatmu Doeloe

SERIOSA INDONESIA
Karya: Iskandar, Mochtar Embut dll.
Penyanyi: Prana Wengrum Katamsi
Iringan piano Sunarto Sunaryo
Produksi: Irama Mas.

SEPULUH tahun silam, orang seriosa sudah pada cemas. Musik
mereka akan menghilang -- kecuali pemerintah berbuat jasa.
Benar: ketika tahun lalu acara Bintang Radio dan Televisi --
yang sebelumnya terbengkalai, meski pernah dicoba dihidupkan
lagi -- kembali digalakkan, dan seriosa juga diangkat, tampak
benar medan yang sepi itu.

Pengikut lomba ternyata sedikit. Dan pemenangnya pun, untuk
golongan wanita, dia-dia juga: Prana Wengrum Katamsi, sekarang
35 tahun, yang sebelumnya pernah jadi juara enam kali.

Dalam suasana itu juga, beredarnya kaset sang juara baru-baru
ini, yang berisi 15 lagu, masih terkesan sebagai usaha
'perjuangan'.

Memang, sebelum ini sudah muncul kaset sejenis yang mengantarkan
suara Masnun. Tapi kumpulan yang sebuah ini, dikeluarkan oleh
Lowrey Organ, dan diiringi instrumen keluaran pabrik itu pula,
masih lebih dipahami sebagai sekalian usaha promosi produk
perusahaan. Tapi baiklah. Akankah hidangan Prana Wengrum
(bersama Masnun), mampu menyibakkan keriuhan lagu pop di tanah
air, dan mendapat sedikit tempat?

Jenis "hiburan"

Orang teringat tahun-tahun 50-an dan awal 60-an, ketika lagu
seriosa bukan melulu milik "kalangan elite" seperti yang agaknya
sering diduga kini. Di zaman ketika Koes Bersaudara belum
terdengar, ketika Rahmat Kartolo atau Pepen dan Alfian baru
menginjak usia ancang-ancang, para pemuda menyanyi di kamar
mandi dengan seriosa Iskandar.

Seriosa, seperti juga dua jenis lain - langgam alias 'hiburan',
dan keroncong - memang jenis lagu "sebelum zaman band". Juga
jenis lagu yang (kadang-kadang bersama keroncong) lahir di
tengah ideologi musik sebagai benar-benar 'seni suara: Di situ
dihadapkan pertama kali tuntutan vokal, dengan tekniknya yang
khusus.

Seni itu sulit. Demikian kira-kira pandangan itu. Begitupun
seriosa. Dengarlah nomor-nomor yang dibawakan Wengrum sendiri.
Cita-Cita dari Mochtar Embut, misalnya, boleh mewakili melodi
yang sukar -- di samping memang kurang populer. Atau Embun dari
G.R.W. Sinsoe, yang di samping merdu juga boleh dianggap susah
dalam metrum. Tapi juga Puisi Rumah Bambu F.X. Sutopo, atau
bahkan umumnya nomor-nomor seriosa yang 'top' -- semuanya tampak
menjelajah kemungkinan memanfaatkan pelik-pelik prestasi vokal
itu bagi memunculkan hasil yang "ideal", tinggi, terstilir alias
tidak sehari-hari.

Dan dalam 'ujian' itu, Prana Wengrum lulus. Dari nyonya dokter
ini bisa diterima gebrakan suara yang bahkan harus dinilai
sebagai paling "meraja" - dibanding rekan-rekan lainnya. Tak
hanya keberhasilan teknis -- melewati "tikungan-tikungan
berbahaya" tanpa sedikit lejitan. Dengan hanya iringan piano
yang sugestif (Sunarto Sunaryo), suara itu telah menjadikan
semuanya hidup, gempal, dan bersih.

Di sini bedanya dengan kaset Masnun. Suaranya yang lebih gemulai
barangkali memang pantas direngkuh oleh kebasahan iringan sebuah
organ -- yang dimainkan oleh komponis Sudharnoto. Tapi di
samping "pameran vokal" tak muncul, yang berhembus kemudian
adalah suasana yang hampir adem ayem belaka.

Masnun memang seorang juara keroncong, nyanyian dengan melodi
yang lancar itu. Ketika ia membawakan nomor Embun yang sama
ciptaan Sinsoc, misalnya, kelihatan perbedaan. Pala Masnun
metrum terasa menjadi sederhana, sementara pada Wengrum
cegatan-cegatan justru merupakan tantangan yang agaknya
digemari.

Sebaliknya, sementara ucapan Masnun masih jelas, pada Wengrum
kejelasan terasa bukan menjadi yang paling penting.

Bisa dipaham. Ada crescendo, keraslemah suara yang tak biasa
dituntut dalam lagu-lagu "hiburan". Ada vibrasi yang penuh, yang
bukan sekedar alun keroncong atau cengkok Melayu. Di samping
itu stilisasi banyak dikenakan pada ucapan sendiri. Paling tidak
pada Wengrum, dua kata misalnya disatukan pengucapannya untuk
memelihara kontinuitas alun. Untung saja bukan "pembaratan"
diksi seperti pada banyak soprano lain: penambahan h di belakang
k atau t, misalnya.

Betapapun, suara Wengrum dalam kaset terhitung masih lebih jelas
-- dari misalnya suara Surti Suwandi, pendekar lain. Konsonan
tidak sampai tenggelam dalam vibrasi dan gaung. Keunggulan lain,
seperti juga pada Surti: teknik tidak terasa sebagai 'bikinan'.
Emosi lagu mengalir dengan cukup -- dan bukan sekedar
"keahlian".

Himne Tanah Air

Itu terutama penting untuk lagu-lagu yang memang terkenal merdu
dalam khazanah kita. Kisah Mawar di Malam Hari Iskandar, Derita
Sudharnoto, Tempat Bahagia Binsar Sitompul atau Lagu Untuk
Anakku Sjaiful Bachri, misalnya, dibawakan cukup utuh dengan
rohnya.

Prana Wengrum, siapa tahu, penyanyi seriosa kita yang terbagus
--yang hanya boleh ditandingi oleh misalnya Catherina
Wiriadinata, soprano opera kita yang sedikit itu. Tapi yang
lebih penting, selalu terasa ada yang bening, dan betapa pun
khusuk, di sini. Ada yang romantis dan sentimental, yang luhur
dan dikejar, ada ketulusan, dan selalu sebuah ide. Seperti juga
lagu-lagu koor atau himne tanah air kita -- yang juga tidak
dikenal angkatan sekarang. 

MUSIK DANGDUT

ALUN-ALUN NGANJUK BY SERA

video

PENGERTIAN CHORD DAN LYRIK

lungo tak anti anti

kapan ngonmu bali

wecake endahe wengi

kutho nganjuk iki

sumi ler angen wates

ku tak kangene ati

opo koe ora ngerteni

koe tak kangeni

neng alun alun tak goleki

bengi nang setasiun tak ubengi

senajan setahun tak goleki

tresnamu seng tak gondeli

lali tenan to dik ngonmu janji jani

disekseni lampu alun alun iki

lali tenan to dik

karo aku iki

neng terminal stasiun ngonku ngoleki

interlude :

sumi ler angen wates kutak kangene ati

opo koe ora ngerteni koe seng tak kangeni

neng alun alun tak goleki

bengi nang setasiun tak ubengi

senajan setahun tak enteni

tresnamu seng tak gondeli

lali tenan to dik ngonmu janji janji

disekseni lampu alun alun iki

lali tenan to dik karo aku iki

neng terminal stasiun ngonku ngoleki

Jumat, 26 November 2010

MUSIK STAMBUL

video
KASAP HAVASI

PENGERTIAN

Stambul Keroncong:

Stambul Keroncong berbentuk (A-B-A-B') x 2 = 16 birama x 2 = 32 birama, merupakan modifikasi Stambul II yang 16 birama menjadi 32 birama (menyesuaikan standar Keroncong Abadi yang 32 birama). Stambul merupakan jenis keroncong yang namanya diambil dari bentuk sandiwara yang dikenal pada akhir abad ke-19 hingga paruh awal abad ke-20 di Indonesia dengan nama Komedi stambul. Nama "stambul" diambil dari Istambul di Turki.
Alur akord Stambul Keroncong adalah sbb. (tanda - adalah tacet atau iringan tidak dibunyikan):
  • |I - - - | - - - - | - - - - |IV , , , | dibuka dg broken chord I utk mencari nada
  • |IV , , , |IV , , , |IV , V ,|I , , , |
  • |I , , , |I , , , |I , , , |V , , , |
  • |V , , , |V , , , |V , , , |I , , , |
  • |I , , , |I , , , |I , , , |IV , , , | 16 birama ini pengulangan dari 16 birama pertama atau sama
  • |IV , , , |IV , , , |IV , V , |I , , , |
  • |I , , , |I , , , |I , , , |V , , , |
  • |V , , , |V , , , |V , , , |I , , , |
Stambul merupakan jenis keroncong yang namanya diambil dari bentuk sandiwara yang dikenal pada akhir abad ke-19 hingga paruh awal abad ke-20 di Indonesia dengan nama Komedi stambul. Nama "stambul" diambil dari Istambul di Turki.

MUSIK KERONCONG

video
TEMBANG KENANGAN BY SUNDARI SOEKOTJO
PENGERTIAN

Musik keroncong lebih condong pada progresi akord dan jenis alat yang digunakan. Sejak pertengahan abad ke-20 telah dikenal paling tidak tiga macam keroncong, yang dapat dikenali dari pola progresi akordnya. Bagi pemusik yang sudah memahami alurnya, mengiringi lagu-lagu keroncong sebenarnya tidaklah susah, sebab cukup menyesuaikan pola yang berlaku. Pengembangan dilakukan dengan menjaga konsistensi pola tersebut. Selain itu, terdapat pula bentuk-bentuk campuran serta adaptasi.
Setelah mengalami evolusi yang panjang sejak kedatangan orang Portugis di Indonesia (1522) dan pemukiman para budak di daerah Kampung Tugu tahun 1661 [1], dan ini merupakan masa evolusi awal musik keroncong yang panjang (1661-1880), hampir dua abad lamanya, namun belum memperlihatkan identitas keroncong yang sebenarnya dengan suara crong-crong-crong, sehingga boleh dikatakan musik keroncong belum lahir tahun 1661-1880.
Dan akhirnya musik keroncong mengalami masa evolusi pendek terakhir sejak tahun 1880 hingga kini, dengan tiga tahap perkembangan terakhir yang sudah berlangsung dan satu perkiraan perkembangan baru (keroncong millenium). Tonggak awal adalah pada tahun 1879 [2], di saat penemuan ukulele di Hawai [3] yang segera menjadi alat musik utama dalam keroncong (suara ukulele: crong-crong-crong), sedangkan awal keroncong millenium sudah ada tanda-tandanya, namun belum berkembang (Bondan Prakoso).
Empat tahap masa perkembangan tersebut adalah[4]
(a) Masa tempo doeloe (1880-1920),
(b) Masa keroncong abadi (1920-1960), dan
(c) Masa keroncong modern (1960-2000), serta
(d) Masa keroncong millenium (2000-kini)
Ukulele ditemukan pada tahun 1879 di Hawaii, sehingga diperkirakan pada tahun berikutnya Keroncong baru menjelma pada tahun 1880, di daerah Tugu kemudian menyebar ke selatan daerah Kemayoran dan Gambir (lihat ada lagu Kemayoran dan Pasar Gambir, sekitar tahun 1913). Komedie Stamboel 1891-1903 lahir di Kota Pelabuhan Surabaya tahun 1891, berupa Pentas Gaya Instanbul, yang mengadakan pertunjukan keliling di Hindia Belanda, Singapura, dan Malaya lewat jalur kereta api maupun kapal api. Pada umumnya pertunjukan meliputi Cerita 1001 Malam (Arab) dan Cerita Eropa (Opera maupun Rakyat), termasuk Hikayat India dan Persia. Sebagai selingan, antar adegan maupun pembukaan, diperdengarkan musik mars, polka, gambus, dan keroncong. Khusus musik keroncong dikenal pada waktu itu Stambul I, Stambul II, dan Stambul III. Pada waktu itu lagu Stambul berirama cepat (sekitar meter 120 untuk satu ketuk seperempat nada), di mana Warga Kampung Tugu menyebut sebagai Keroncong Portugis, sedangkan Gesang menyebut sebagai Keroncong Cepat, dan berbaur dengan Tanjidor yang asli Betawi. Pada masa ini dikenal para musisi Indo, dan pemain biola legendaris adalah M. Sagi (perhatikan rekaman Idris Sardi main biola lagu Stambul II Jali-jali berdasarkan aransemen dari M. Sagi).

MUSIK POPULER

Ungu Mabuk Kepayang

video
 
Lirik Lagu Ungu Mabuk Kepayang

 

 

PENGERTIAN CHORD DAN LYRIK

Cinta..
Kata orang ku jatuh cinta, kepada dirimu.
Cinta sampai tergila-gila.

ooo rindu..
Rindu ku memikirkan kamu
hanyalah dirimu yang membuat ku mabuk kepayang.

**
Cinta cinta cinta pada dirimu.
Rindu rindu rindu akan senyummu.
Hanya satu kamu yang aku mau.
Sampai mati kau kan slalu ku tunggu..

Reff :
Cinta yang membuat hidup menjadi indah
Dari hari yang lalu
Cinta yang membuat hati berbunga-bunga
Tinggalkan rasa yang layu

***
oohh Cinta..
Kata orang ku jatuh cinta, kepada dirimu.
Cinta sampai tergila-gila.

mmmm rindu..
Rindu ku memikirkan kamu
hanyalah dirimu yang membuat ku mabuk kepayang.

****
Cinta cinta cinta pada dirimu.
Rindu rindu rindu akan senyummu.
Hanya satu kamu yang aku mau.
Sampai mati kau kan slalu ku tunggu..

Reff :
Cinta yang membuat hidupmu lebih indah.
Dari hari yang lalu.
Cinta yang membuat hati berbunga-bunga.
Tinggalkan rasa yang layu.

Repper :
Bagaikan racun yang terus membiusku.
menebarkan aroma kedalam sluruh tubuhku.
detak jantungku berhenti saat ku bertemu denganmu
tak kuasa ku menolak.

***
Cinta cinta cinta pada dirimu.
Rindu rindu rindu akan senyummu.
Hanya satu kamu yang aku mau.
Sampai mati kau kan slalu ku tunggu..

Reff :
Cinta yang membuat hidupmu lebih indah.
Dari hari yang lalu.
Cinta yang membuat hati berbunga-bunga.
Tinggalkan masa yang layu.

Cinta Cinta Cinta yang membuat hidupmu lebih indah.
Dari hari yang lalu.
Cinta yang membuat hati berbunga-bunga.
Tinggalkan masa yang layu..

 

Selasa, 23 November 2010

SENI MUSIK DAERAH

video
GAMBANG SULING

PENGERTIAN

Karangan / Ciptaan : Ki Narto Sabdo

Gambang suling ngumandang swarane
Tulat tulit kepenak unine
Unine mung nrenyuh ake
Barengan lan kentrung ketipung suling
Sigrak kendangane

Lagu Gambang Suling berasal dari daerah / provinsi Jawa Tengah


OPINI

Dokumen lagu Gambang Suling dalam partitur not angka dan not balok ini dilengkapi dengan akord kunci gitar. Gambang Suling merupakan lagu daerah Jawa Tengah, ciptaan dalang wayang kulit Ki Nartosabdo.
Untuk mengunduh file, silakan klik gambar!


CIRI-CIRI

Gambang Suling iku sawijining tembang dolanan, yaiku jinis tembang sing prasaja, biasa ditembangaké déning utamané ing padésan, sinambi dolanan bebarengan karo kanca-kancané. Lumantar lagu dolanan, bocah-bocah dikenalaké bab sato kéwan, sato iwèn, thethukulan, tetanduran, bebrayan, lingkungan alam, lan sapanunggalané.
Kadhangkala tembang dolanan uga ditembangaké déning waranggana jroning swasana tinamtu ing pagelaran wayang kulit.


ARTIKEL



Puluhan kaum muda Slovakia bersama warga Indonesia tampil memukau pengunjung ketika memainkan musik gamelan dengan melantunkan lagu "Gambang Suling" dari Jawa Tengah, tari Janger dari Bali, lagu "Tota Helpa" dari Slovakia, dan lagu "Bapang Selisir" dari Bali.
"Tari tradisional Indonesia dan musik gamelan semakin populer dan diminati masyarakat Slovakia," kata Sekretaris Pertama KBRI Slovakia, Wanton Saragih Sid, kepada koresponden ANTARA, Selasa.
Ia mengatakan berbagai pagelaran tari tradisional dan musik gamelan yang diadakan KBRI Bratislava di berbagai tempat dan kota di Slovakia selalu dipadati penonton yang berasal dari kalangan generasi tua dan muda.
Pada Festival Budaya ke-11 kota Trencianske Teplice, KBRI Bratislava mengadakan pagelaran tari tradisional Indonesia dan musik gamelan yang dihadiri tidak kurang dari 650 orang pengunjung.
Pagelaran di Taman Kota "Spa Therapy" itu diadakan di beberapa kota yang berbeda untuk memenuhi undangan dari panitia perayaan "50 Tahun Kota Dubnica" Slovakia, bahkan tari tradisional dan musik gamelan yang digelar di "Taman Hiburan" dihadiri tidak kurang dari 350 orang.
Besarnya antusiasme masyarakat Slovakia terhadap pagelaran seni budaya Indonesia tersebut selain karena tempatnya yang strategis, juga seni budaya yang ditampilkan dianggap unik dan khas oleh masyarakat Slovakia.
Selain itu, musik gamelan dan tari yang ditampilkan melibatkan kaum muda Slovakia yang mengenakan busana tradisional Indonesia.
Saat lagu "Bapang Selisir" dilantunkan, dua orang mahasiswi dari "Academy of Performing Arts" Slovakia tampil menari mengikuti dentingan musik gamelan tersebut.
Pagelaran gamelan tersebut semakin menarik karena dimainkan dengan musik hasil kolaborasi alat musik gamelan dan alat musik moderen berupa "keyboard" dan "flute."
Dalam kesempatan yang sama juga ditampilkan tari "Rantak" dari Sumatera Barat yang dibawakan dua penari warga Slovakia lainnya dengan luwes.
Pagelaran tari dan musik tradisional Indonesia mewarnai kegiatan promosi Indonesia dengan memanfaatkan even d tempat strategis di Slovakia seperti acara International Travel Fair, gedung Radio Slovakia, gedung Stara Trnizca Bratislava, Panggung Centrum Bratislava, dan acara-acara festival lainnya.


LAGU PERJUANGAN

video

BANGUN PEMUDA-PEMUDI INDONESIA

PENGERTIAN

Karangan / Ciptaan : A. Simanjuntak

Bangun pemudi pemuda Indonesia
Tangan bajumu singsingkan untuk negara
Masa yang akan datang kewajibanmu lah
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas
Tak usah banyak bicara trus kerja keras
Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih
Bertingkah laku halus hai putra negri
Bertingkah laku halus hai putra negri


CIRI-CIRI

Peristiwa sejarah Soempah Pemoeda atau Sumpah Pemuda merupakan suatu pengakuan dari Pemuda-Pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 hasil rumusan dari Kerapatan Pemoeda-Pemoedi atau Kongres Pemuda II Indonesia yang hingga kini setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.
Kongres Pemuda II dilaksanakan tiga sesi di tiga tempat berbeda oleh organisasi Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang beranggotakan pelajar dari seluruh wilayah Indonesia. Kongres tersebut dihadiri oleh berbagai wakil organisasi kepemudaan yaitu Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb serta pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie.


Isi Dari Sumpah Pemuda Hasil Kongres Pemuda Kedua :

PERTAMA :
Isi Dari Sumpah Pemuda Hasil Kongres Pemuda Kedua :
PERTAMA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia).
KEDOEA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia).
KETIGA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia).







ARTIKEL


Alfred Simanjuntak

Bangun Pemudi Pemuda


Namanya terukir sebagai pencipta lagu nasional ‘Bangun Pemudi Pemuda’. Judul lagu itu tampaknya selalu menjadi obsesi pria suku Batak kelahiran Parlombuan, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 8 September 1920 itu. Hal itu setidaknya tercermin dari Karya Paparnya berjudul Membangun Manusia Pembangunan, saat menerima gelar Doctor Honoris Causa (DR. HC) atas pengabdiannya selama 60 tahun di bidang pendidikan dari Saint John University, 10 Februari 2001 di Jakarta.

Alfred Simanjuntak, seorang pencipta lagu yang berprofesi sebagai guru hampir sepanjang hidupnya. Saat menulis lagu Bangun Pemuda-Pemudi tersebut dia berusia 23 tahun (1943) dan bekerja sebagai guru Sekolah Rakyat Sempurna Indonesia di Semarang. Sebuah sekolah dengan dasar jiwa patriotisme yang didirikan oleh sejumlah tokoh nasionalis seperti Dr Bahder Djohan, Mr Wongsonegoro, dan Parada Harahap.

Obsesi kemerdekaan negeri dan membangun pemuda-pemudi Indonesia itu terus memenuhi benaknya hingga suatu kali saat sedang mandi Alfred terinspirasi menulis syair lagu itu. Kala itu dia seperti mendengar suara-suara melodi di telinganya. "Tuhan memberikan lagu ke kuping saya selagi lagi mandi. Saya cepat-cepat mandi, lalu saya tulis segera," kisahnya.

Lagu Bangun Pemudi Pemuda itu digubahnya dalam suasana batin seorang anak muda yang gundah di negeri yang sedang terjajah. "Rasa ingin merdeka kuat sekali di kalangan anak muda saat itu. Kalau ketemu kawan, kami saling berucap salam merdeka!" tutur Alfred Simanjuntak di rumahnya di kawasan Bintaro, Tangerang, Banten.

Bahkan menurut pengakuannya, lagu tersebut nyaris mengancam jiwanya. Sebab, gara-gara lagu yang dinilai sangat patriotik itu, nama Alfred Simanjuntak masuk daftar orang yang dicari Kempetai, polisi militer Jepang untuk dihabisi.

Hingga saat ini, lagu itu masih tetap dikumandangkan, termasuk pada setiap perayaan Kemerdekaan RI 17 Agustus. Bahkan Band Cokelat pada album Untukmu Indonesia-ku juga merilis lagu itu. Juga oleh Paduan Suara Anak-anak Surya dalam album Kumpulan Lagu Wajib Indonesia Raya.

Alfred di masa kecil, hidup bersahaja tapi bahagia. Dia putera pasangan Guru Lamsana Simanjuntak-Kornelia Silitonga, delapan bersaudara. Dia mengenang saat makan nasi, daun singkong, dengan lauk ikan asin sebesar jari. Namun dia tetap mensyukuri ikan asin yang cuma seujung jari itu. Keluarga itu tetap hidup dalam sukacita.

Sukacita itu tercermin dari kegemarannya bernyanyi. Alfred sering tampil bernyanyi di acara Natal sejak duduk di Hollands Inlandsche School (HIS) di Narumonda, Porsea, Tapanuli Utara. Kemudian kemahiran musik Alfred berkembang ketika dia belajar di Hollands Inlandsche Kweek School atau semacam sekolah guru atas di Margoyudan, Solo, Jawa Tengah, 1935-1942.

Di sekolah itu jiwa nasionalisme Alfred menguat. Sebab di sekolah itu dia berkumpul dengan kawan-kawan dari berbagai daerah, suku dan budaya, seperti Manado, Ambon, Batak dan Jawa. “Rasa percaya diri kami sebagai satu bangsa sudah tertanam kuat," kenang Alfred, yang akrab dipanggil Pak Siman dan fasih berbahasa Jawa.

Kemudian tahun 1950 – 1952, Alfred melanjut ke Fakultas Sastra Universitas Indonesia, MO Bahasa Indonesia, Jakarta. Lalu tahun 1954 – 1956 berturut-turut melanjutkan belajar di Rijksuniversiteit Utrecht, Leidse Universiteit, Leiden, Stedelijke, Amsterdam, Nederland.

Pada tahun 1946-1949, dia sempat menjadi wartawan surat kabar “Sumber” di Jakarta. Sejak tahun 1950, ia bekerja penuh di Badan Penerbit Kristen (BPK) Gunung Mulia, Jakarta, dan sempat menjadi pimpinannya. Akan tetapi, dia tetap aktif di musik. Tahun 1967 turut mendirikan Yayasan Musik Gereja (Yamuger) dan tahun 1985 memprakarsai Pesta Paduan Suara Rohani (Pesparani).

Dia juga juga terus menulis lagu. Pada tahun 1980, dia menulis lagu Negara Pancasila. Belakangan dia diminta Gus Dur menggubah Himne Partai Kebangkitan Bangsa. Selain itu, Alfred juga banyak mencipta lagu rohani. Bahkan dia pernah menulis lagu dalam irama dangdut, Terumbu Karang atas permintaan Lembaga Ilmu Pengetahuan sejarah—hari ini—hanyalah mengenang sejarah. Sehingga tidak (belum) ada sejarah baru yang tercipta dengan kualitas semisal karya mereka.n Indonesia (LIPI) yang akan disosialisasikan kepada masyarakat di kawasan pesisir Riau, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua.

Alfred kini telah menjadi ompung (kakek) dari 11 cucu yang lahir dari empat anaknya, yaitu Aida, Toga, Dorothea, dan John. Putri sulungnya, Aida Swenson-Simanjuntak, dikenal sebagai penggiat kelompok Paduan Suara Anak Indonesi 


OPINI

Selamanya, para pemuda adalah energi peradaban yang mengalirkan sungai sejarah. Setiap kali energi itu meledak, sejarah segera mencatat peristiwa-peristiwa dan langit menjadi saksi. Sebuah lembaran kehidupan baru dan buku sejarah menusia telah dibuka.
Akan tetapi, anak muda macam manakah mereka? Jawabannya, ”mereka adalah anak-anak muda yang telah beriman kepada Tuhan mereka, lalu Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.” (Al-Kahfi: 13)
Demikianlah kegelisahan menjadi isyarat dari anak-anak muda, bawa peristiwa baru akan lahir dari rahim sejarah. Kegelisahan memberi energi, dan energi itu tumpah ruah dalam semangat perlawanan dan pembelaan. Maka, ada peristiwa ada sejarah. Bila kegelisahan sudah sampai pada titik klimaksnya, tunggulah energi peradabannya. Termasuk kegelisahan pemuda dengan permasalahan yang menimpa sebagian para pemuda yang lainnya.
Para pemuda perlu kembali mengkonsolidasikan diri. Lupakan friksi-friksi. Bersatulah dalam bendera anak bangsa yang siap mendendangkan lagu sorak-sorak bergembira. Buatlah ibu pertiwi yang lagi bersedih hati, tersenyum di bawah panji-panji kebenaran dan keadilan. Sebab, sepertinya sejarah telah terlanjur mempercayakan kepada para pemuda untuk menginisiasi sebuah perubahannya




Lagu bangun pemuda pemudi ini seolah menyapa kita para pemuda. Mungkin dengan intonasi hardikan. Kerinduan ini bukan saja pada syair atau kata-katanya. Tapi juga pada ruh dan semangatnya, pada kobaran dan geloranya, pada nuansa dan realitasnya. Terlintas perjuangan generasi muda beberapa episode sebelumnya. Tersebutlah angkatan-angkatan mereka dalam kenangan sejarah yang kian diulang-ulang. Angkatan 08, 28, 45, 65, 74 ataupun 98. Sayang, sejarah—hari ini—hanyalah mengenang sejarah. Sehingga tidak (belum) ada sejarah baru yang tercipta dengan kualitas semisal karya mereka.